Manfaat Dan Cara Budidaya Tanaman Serai Wangi Yang Sangat Menguntungkan

 

 

Bagi masyarakat Indonesia baik pedesaan atau juga perkotaan pasti familiar dengan yang namanya tanaman Serai. Tanaman Serai yang memiliki nama ilmiahnya Cymbopogon citratus adalah tanaman bumbu alami yang asalnya dari anggota suku rumput – rumputan. Tanaman Serai sendiri awalnya tumbuh liar didaerah hutan dan juga lereng gunung di pulau Kalimantan dan Sumatera. Dengan bercocok tanam Serai yang mudah dan juga praktis, maka tidak heran jika para petani berlomba dalam membudidayakannya dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan secara finansial. Budidaya Serai sendiri bisa dilakukan dimana saja, seperti di pot, karung, wadah polybag, dan bisa juga diperkarangan terbuka seperti di sawah, ladang, perkebunan, daerah perkantoran dan lain sebagainya. Manfaat dari tanaman Serai ini bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti halnya bahan baku herbal alami yang dapat menyembuhkan penyakit keseleo, sakit pinggang, luka memar. Selain itu juga Serai dapat digunakan untuk penyedap rasa masakan seperti menghilangkan bau anyir pada jenis kerang – kerangan, udang, ikan dan lainnya. Karena banyaknya manfaat yang didapatkan dari tanaman Serai maka banyak orang membudidayakannya agar mendapatkan finansial.

serai wangi kian digandrungi untuk dibudidayakan. Selain aroma khas daunnya yang menyerupai rempah-rempah, rumput ini juga memiliki khasiat untuk mengusir nyamuk. Selain itu, tanaman ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Bibit dan daunnya bisa mendatangkan omzet.Berikut Manfaat dan cara membudidayakannya :

Manfaat Serai Wangi

1) membantu mengubati masalah sakit perut dan memecahkan gumpalan angin serta melepaskan angin melalui dubur (kentut) dan mulut (sendawa).dapat membantu mengimbangkan kestabilan hormon.

2) Campuran pada rempah ratus dijadikan pes bagi merawat bengkak-bengkak sendi dan otot.air rebusan daun serai (lebih baik jika dicampurkan dengan daun sirih dan gandarusa) digunakan bagi mandian ibu dalam pantang selepas bersalin dan untuk penyakit lemah otot dan sendi.

3)menambahkan aroma hidangan serta membantu meringankan keadaan keracunan makanan.campuran dengan rempah ratus mempunyai khasiat bagi merawat kesihatan sistem dalaman badan.Membantu melawaskan dan melancarkan pembuangan air kecil.

4)daun serai yang dibalut dengan besi atau batu panas digunakan untuk tuaman yang bertungku pada kawasan urat saraf yang lemah,penyakit bisa otot-otot,sendi,mengecutkan rahim yang bengkak,memecahkan lendir,darah dan angin.

3)daun serai dan jintan hitam digiling menjadi pes dan ditampal di dahi untuk untuk melegakan sakit kepala seperti angin meroyan dalam pantang bersalin.

4)Membantu melegakan sendi dan saraf yang tegang sewaktu bersalin

5)Membantu melancarkan peredaran darah

6)Membantu mengurangkan rasa stress dengan bau-bau haruman pati daun yang di rebus.

7)Membantu mengurangkan angin di seluruh badan.
BUDIDAYA SEREH WANGI

Tanaman sereh wangi merupakan salah satu tanaman penghasil atsiri yang cukup penting di Indonesia. Teknik budidaya merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan usaha tani, disamping faktor lingkungan juga ikut menentukan kelanjutan usaha budidayanya.

Syarat Tumbuh

Pertumbuhan tanaman serai wangi dipengaruhi oleh kesuburan tanah, iklim dan tinggi tempat diatas permukaan laut, dan tumbuh di berbagai tipe tanah baik didataran rendah maupun daratan tinggi sampai dengan ketinggian 1.200 m dpl, dengan ketinggian tempat optimum 250 m dpl. Untuk pertumbuhan daun yang baik diperlukan iklim yang lembab, sehingga pada musim kemarau pertumbuhannya menjadi agak lambat. Tanaman pelindung berpengaruh kurang baik terhadap produksi daun dan kadar minyaknya. Secara umum serai wangi tumbuh baik pada tanah gembur sampai liat dengan pH 5,5 – 7,0. Dengan curah hujan rata-rata 1.000 – 1.500 mm/tahun dengan bulan kering 4 – 6 bulan, produksi daun menjadi turun tetapi rendemen dan mutu minyak meningkat (Zainal et al., 2004).

Persiapan lahan

Bila lokasi lahannya berupa semak belukar cukup dibabat, dibakar dan langsung dibajak. Setelah pembukaan lahan dilakukan pengajiran lubang tanam. Jarak tanam ditanah yang subur 100 x 100 cm, sedangkan di tanah yang kurang subur 75 x 75 cm. Ukuran lubang tanaman adalah 30 x 30 x 30 cm. Penanaman serai wangi dapat juga dilakukan dengan sisitem parit, ukuran lebar dan dalam parit sama seperti sistem lubang. Pada lahan yang topografinya lereng, sebaiknya barisan lubang atau parit tanam searah kountour. Penanaman serai wangi pada kemiringan lahan 25 – 30º dengan curah hujan 3.500 mm/th, sebaiknya menggunakan terasering dan pertanaman secara pagar.

Penanaman

Seminggu setelah penyemprotan herbisida penanaman sudah dapat dilakukan. Penanaman sebaiknya dilakukan di awal atau diakhir musim hujan ini menghindari penyiraman. Bibit yang ditanam pada musim hujan akan tumbuh dengan cepat. Bibit serai wangi ditanam 1 atau 2 batang per lubang tanam. Bila ukuran batang bibit yang akan ditanam cukup besar, cukup ditanam 1 batang per lubang, tetapi bila kecil-kecil ditanam 2 batang per lubang. Penanaman dilakukan sampai sedikit diatas pangkal batang, lalu tanah disekitar bibit dipadatkan.

Penyiangan dan Penyulaman

Penyiangan pertama dilakukan 1 bulan setelah tanam selanjutnya tiga bulan sekali atau 4 kali dalam setahun tergantung pertumbuhan gulma. Sedangkan penyulaman dilakukan bila ada bibit yang belum tumbuh atau mati dalam kurun waktu satu bulan Setelah tanam. Penyulaman ini sangat penting untuk mempertahankan jumlah populasi dan produksi. Bibit yang digunakan untuk penyulaman dapat berasal dari anakan yang sudah ditanam dan hidup disampingnya atau dari rumpun induk yang sejenis.

Pemupukan

Untuk menjaga kesuburan tanah dan kestabilan produksi, tanaman serai wangi perlu dipupuk. Pupuk berpengaruh pada produksi daun dan banyaknya minyak atsiri yang dihasilkan per hektar (Rusli et al., 1990). Umur satu bulan setelah tanam, beri pupuk Urea sebanyak 25 gram atau satu sendok makan per rumpun. Pupuk diberikan dengan cara melingkari rumpun sejarak 25 cm atau satu jeng-kal. Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengemburan. Dosis pupuk yang dipakai tergantung dari kondisi tanah baik sifat fisik maupun kesuburannya. pupuk NPK (37 ; 65 ; 65) dengan dosis 150 – 200 kg/ha, 50 kg KCl/ha (Risfaheri, 1990). Pupuk kandang 2 kg per rumpun yang di berikan 6 bulan sekali.

Panen

Panen pertama dilakukan pada saat tanaman serai wangi sudah berumur 5 – 6 bulan setelah tanam dengan cara memotong daun serai wangi pada 5 cm diatas ligula (batas pelepah dengan helaian daun) dari daun paling bawah yang belum mati atau kering. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan pada musim hujan dan setiap 4 bulan pada musim kemarau. Produksi serai wangi sejak dari panen 1 sampai ke 3 meningkat, tetapi panen berikutnya sampai panen ke 7 produksi turun hampir 50%. Terjadinya penurunan produksi daun segar dan minyak setelah tahun ketiga adalah karena dengan meningkatnya umur rumpun tumbuhnya makin ke atas, sehingga akar baru yang tumbuh tidak dapat mencapai tanah yang menyediakan hara. Oleh karena itu untuk meningkatkan produksi daunnya diperlukan tindakan budidaya terutama pembum-bunan sekitar rumpun (Mansur, 1990). Untuk tanah yang subur dan tanaman terpelihara dengan baik, hasil daun segar berkisar 50 – 70 ton/ha/th. Sedangkan untuk tanaman yang tidak terpelihara dengan baik, Produksinya hanya antara 15 – 20 ton daun segar/ha/ th. (Rusli at al., 1990).

Pasca panen

Jumlah dan mutu serai wangi yang dihasilkan selain ditentukan oleh jenis tanaman kondisi iklim dan tanah, serta mutu daun waktu panen, juga ditentukan oleh cara penanganan daun setelah panen dan penyulingan. Penanganan daun sebelum disuling yang kurang tepat dapat menurunkan produksi dan mutu minyak. Daun serai wangi yang akan disuling tidak perlu dipotong-potong pendek. Tetapi sebaiknya daun serai wangi tersebut dijemur selama 3 – 4 jam atau disimpan di tempat teduh 3 – 4 hari. Sebetulnya mutu minyak yang terbaik diperoleh dari penyulingan daun segar. Penjemuran dan pelayuan daun serai wangi sebelum disuling pada batas tertentu tidak berpengaruh terhadap rendemen minyak. Malahan penjemuran dan pelayuan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar sitronellal dan total geraniol dalam minyak. Tetapi dengan penjemuran atau pelayuan jumlah bahan yang dapat disuling setiap kali penyulingan bertambah besar, sehingga penyulingan bahan dalam keadaan kering lebih efiisien. Lama penyulingan untuk ketel penyuling kapasitas 1 ton daun adalah 5 jam dengan kecepatan penyulingan 120 kg uap/jam. Rendemen minyak yang dihasilkan sekitar 0,7 – 0,9%. Sebaiknya ketel penyulingan diberi isolasi untulk mencegah kehilangan panas.

setiap satu hektare lahan bisa memanen sekitar 10 ton daun citronella. Minyak hasil penyulingan daun serai wangi ini dibanderol Martha Rp 160.000 per kilogram. Dalam sebulan, Martha bisa meraup omzet Rp 15 juta dengan laba bersih sekitar 30%.
Itulah beberapa langkah cara menanam serai yang dapat dijadikan panduan dalam budidaya serai wangi/sereh baik sekala kecil maupun dalam jumlah banyak.
Sumber : nad.litbang.pertanian. khasiatherba

(Visited 391 times, 17 visits today)

admin super

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Meta